Ada yang pernah ngalamin CLBK gak? Rasanya gimana? Terus, alesannya milih CLBK apaan? Dari pada pusing, mending simak aja sepenggal “coretan” dibawah ini tentang fenomena CLBK khususnya yang dialami sendiri oleh penulis.

Sekitar 2 tahun yang lalu, kalau gak salah bulan september, tanpa disengaja aku dipertemukan kembali dengan mantanku. “Modus” bertemunya juga terbilang unik, yaitu pada saat aku dan dia berpapasan di sebuah gang kecil di daerah kami (Wkwkwkw.. Kayak di pilem2 ea?). Entah itu berkah atau cuman kebetulan, pada saat itu muncul dipikiran aku buat ngajakin dia buat balikan kayak dulu.

Sebut saja fifi, seorang gadis lugu berperawakan chinese. Aku memang masih menaruh hati padanya sejak setelah hubungan kami break. Lagi pula, penyebab retaknya hubungan kami bisa dibilang cuma gara2 masalah sepele aja, mungkin pada waktu itu kami masih terlalu dini buat menyandang status “pacar”.

Tanpa banyak basa-basi, malam pertemuan di gang itu aku jadikan sebagai ajang untuk ngajakin dia “balikan” (maklum waktu itu istilah CLBK belum terlalu populer) , singkat cerita, aku langsung nyamperin dia. Satu pertanyaan yang masih aku ingat sampai sekarang “Udah punya pacar blum?” pertanyaan yang sudah sangat umum digunakan para cowok yang ingin ngajakin mantannya buat balikan. “Blum” jawab si Fifi…, “Mau gak balikan sama aku” balasku, mendengar pertanyaanku itu, sepertinya dia gak langsung merespond seperti pertanyaanku sebelumnya. “Emm aku takutnya kamu masih kayak dulu” timpalnya kemudian.

Mendengar jawaban si fifi, secepat kilat, aku langsung menjawab “Gak kok, aku gak bakalan kayak dulu lagi (sambil garukin kepala yang sebenarnya gak gatel Wkwkwkwkw… ) “Gimana, mau gak” ? “Emmm, besok malam aja yach ketemuannya, soalnya ni kayaknya gak pas banget” kata si fifi. Yach mau gimana lagi, aku harus mau dong. Padahal, sebenarnya malam itu juga aku mau dengerin jawabannya tapi eh malah ditunda untuk besok malam. Tapi gak apa2 dech, aku membathin. Dia masih mau aku ajakin ketemuan aja udah syukur, bathinku.

Tanpa menghitung jam, menit, atau detik, tibalah malam berikutnya. Malam yang paling aku nanti2kan. Ibaratnya seorang tersangka, malam ini adalah malam persidangan setelah dipenjara sekian lama. Atau ibarat seorang kandidat presiden, malam ini adalah malam penghitungan suara (hehehe.. ketinggian kali ye) tanpa banyak ibarat lagi, malam itu ternyata si fifi bener2 datang untuk menemui aku.
Wah ada harapan nih, kalau saja dia udah gak ada niat buat balikan, tentunya gak mungkin dong dianya mau aku ajak ketemuan. Soalnya sempet juga terlintas dipikiran aku kalau malam itu dia gak bakalan datang. Aku sempat berfikir kalau janjinya buat nemuin aku gak bakalan ditepati, mungkin si fifi ngomong gitu cuman buat nyenengin aku doang. Tapi ternyata tidak, malam ini dia bener2 datang buat nemuin aku.

Seperti tempat yang kami sepakati semalam sebelumnya, kamipun melanjutkan pembicaraan kami malam itu. Bagai hujan di musim kemarau (Wkwkwkw.. Norak banget ya) malam itu aku bener2 bahagia banget. Bagaimana tidak, si fifi ternyata mau aku ajak balikan. Hal yang tidak pernah aku sangka sebelumnya tapi dengan satu syarat, aku harus ngrubah sifat aku agar gak kayak dulu lagi.

Dan hubungan ini pun berjalan sampai detik ini, cuman sayangnya, waktu bertemu kami sudah gak kayak dulu lagi secara dia nya sekarang lagi nglanjutin studinya di kota M. Tapi komunikasi kami lancar2 aja tentunya.

Penggalan cerita gak menarik diatas adalah pengalaman pribadiku. Jarang2 loh ada blogger yang ingin kisah pribadinya dijadiin komsumsi umum ( Jiah kayak selebritis aja). Yang membuatnya menarik adalah cerita ini bukan fiktif, tapi keseluruhannya real.
Sebenarnya cerita diatas hanyalah kata pengantar. Yang aku ingin tonjolkan dalam postingan ini sebetulnya fenomena tentang CLBK ini sendiri. Sepertinya, fenomena ini sekarang sudah menjadi trend diantara para remaja2 kita. Tapi, masalahnya kalau kita sebut trend, berarti bisa dibilang fenomena CLBK ini cuman lambang hiasan gengsi doang ? Maksudnya gak bener2 dari hati yang ingin balikan sama mantan kekasih ? Terus apa gunanya dong dijalanin ???.

Terlepas dari semua itu, seseorang yang putus hubungan dengan pacarnya adalah hal yang lazim. Tapi, keinginan seseorang buat balikan sama mantannya tapi gak tau ngungkapinnya adalah hal yang tak lazim! Inilah yang menjadi masalah. Tanpa mengurangi rasa hormatku kepada para kaum adam, adat “jaim” dalam proses CLBK lebih banyak didominasi oleh kaum adam ini. Kebanyakan dari mereka merasa canggung buat ngungkapin perasaan yang sesungguhnya buat ngajakin mantannya untuk rujuk lagi. Mereka punya alasan tersendiri dalam masalah ini, mulai dari jaim, malu dibilang cowok melow, takut dibilang terlalu cinta hingga pada akhirnya si cewek dengan mudahnya mempermainkan dia, dan masih banyak lagi alasannya.

Nah mulai sekarang, bagi yang merasa menganut aliran “JAIMISME”, rubahlah kebiasaan itu. Katakan lah yang sebenarnya karna itu adalah cerminan diri kamu yang sesungguhnya. Gak usah jalanin kisah yang sesungguhnya kamu pun gak tau arah dan tujuannya. Bukannya mau menggurui, tapi bukankah indah kalau suatu hubungan itu dijalani dengan betul2 mengikuti kata hati? Terus, kalau aja bener tu ramalan para “orang penentang Tuhan” tentang kiamat di tahun 2012, hayo kapan lagi mau jalin hubungan yang serius tanpa ada pernak-pernik gengsi tadi? Kan tinggal beberap tahun lagi? (wkwkwkwk… Koq jadi bahas kiamat si). Makanya mulai dari sekarang, bagi yang merasa ngejalin hubungan cuman karna gengsi, mending putus aja dech (provokator ni yee), sebab entar ujung2nya juga bakalan ngrepotin. Cari sana yang sesuai dengan kata hati kamu, bodo amat udah punya pasangan apa belum yang penting kamu ngikutin kata hati itu kan manusiawi? Ya gak? Ya iya laah….

Coretan gak penting memang, tapi cukup untuk kita jadikan sebagai sedikit motivasi dalam meraih gelar “pecinta sejati” tentunya.

salam hangat, endraithuujelek