“SIRI PARANRENG, NYAWA PA LAO”, demikian sepenggal kalimat dalam bahasa bugis yang artinya kira-kira seperti ini : “Apabila harga diri telah terkoyak, maka nyawa lah bayaran nya”.
Begitu tinggi makna dari siri ini hingga dalam masyarakat bugis, kehilangan harga diri seseorang hanya dapat dikembalikan dengan bayaran nyawa oleh si pihak lawan bahkan yang bersangkutan sekalipun.

Kata siri sendiri dalam bahasa indonesia berarti malu. Namun, dalam masyarakat bugis, apabila seseorang menyisipkan kata “siri” ini dalam kata-kata atau dialog dalam sebuah permasalahan atau percekcokan, maka berhati-hatilah, bisa dipastikan bahwa masalah tersebut adalah masalah serius.

Sebenarnya, adat mempertahankan harga diri bukan hanya didominasi oleh suku bugis saja, tapi semua suku pasti merasa tidak senang apabila hal yang satu ini diinjak-injak.

Tapi, pada kenyataannya, dalam kehidupan masyarakat bugis, adat mempertahankan siri ini betul-betul dijunjung tinggi ketimbang hal-hal yang lain. Sepertinya, hal yang satu ini memang sudah mendarah daging bagi hampir semua suku bugis yang ada di sulawesi selatan khususnya, maupun yang ada diperantauan pada umumnya.

Tak jarang, suku bugis memilih lebih baik mati sekalian di negeri orang, daripada harus pulang ke tanah bugis dengan menanggung malu.

Tanpa memandang rendah suku-suku lainnya, suku bugis ini memang terkenal dari dahulu dengan ikon keberaniannya. Darah panas yang mengalir, membuat tak sembarang orang yang mau bermain-main dengan suku yang satu ini.

Bukan berarti kejam atau bengis, tapi itulah kenyataannya. Namun, dibalik semua itu, suku yang satu ini terkenal dengan kesetiakawannya.
Orang bugis sangat pandai bergaul dengan suku-suku pendatang lainnya, bahkan tak sedikit juga orang bugis yang mau mati demi membela harga diri teman bahkan yang berlainan suku sekalipun akan mereka bela apabila orang tersebut sudah betul-betul ia anggap sebagai saudara. Ini fakta, saya sebagai orang bugis sudah berkali-kali melihat fenomena ini dalam kehidupan sehari-hari.

Kembali ke adat siri tadi, hal yang satu ini memang sudah tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan masyarakat bugis, bahkan sebagian masyarakat bugis sampai sekarang masih mengenal sistim balas dendam (kayak difilm2 aja ea, hehehe..)

Seseorang yang meninggal sebelum sempat membalas atas harga dirinya yang diinjak-injak, wajib dibalaskan oleh keturunannya kemudian.

Namun, fenomena dosa turunan ini sudah tidak begitu kental lagi di tanah bugis, sebab sebagian masyarakat bugis sadar bahwa kebiasaan tersebut bertentangan dengan ajaran agama islam, agama yang paling banyak dianut oleh masyarakat bugis umumnya.

Nah, demikian sedikit penggalan tentang fenomena adat siri dalam kehidupan masyarakat bugis.

Dan karna penulis orang bugis asli, maka postingan ditulis sesuai dengan fakta yang sebenarnya jadi, tak ada yang diplesetin maupun ditambah-tambah.
Semoga bermanfaat:)

Ditulis oleh : frafhyhollic